Showing posts with label Olahraga. Show all posts
Showing posts with label Olahraga. Show all posts

Sunday, 7 August 2016

Persib Menunggu Maung..

DISCLAIMER: tulisan ini adalah opini dari seorang Pandit Gadungan yang minim pengalaman bermain dan tidak punya kapasitas apa-apa dalam melatih. Semua opini yang keluar murni imajinasi dan jeritan hati dari seorang anak bangsa yang terlahir berdarah biru, sebiru Maung Bandungku! Hati-hati terkontaminasi pikiran amatir dari penulis. Jika sudah yakin dan paham, silahkan dilanjut bacanya. Oh iya, bacanya ga usah pakai emosi ya. Enjoy!

Persib Bandung, sejak lama telah dijuluki Maung. Julukan ini bukan tanpa alasan. Maung adalah Harimau. Entitas yang sangat ditakuti dan bersahaja di dalam hutan. Persib, adalah Maung di dunia sepakbola Indonesia. Setidaknya dulu begitu. Dan, 2 tahun belakangan ini juga begitu. Hari ini, bobotoh (sebutan penggemar Persib) bisa jadi adalah fans klub sepakbola paling jumawa di Indonesia. Bagaimana tidak, Persib adalah pemilik piala Liga Indonesia terakhir. Yang dikalahkannya pun bukan klub sembarangan, adalah Persipura klub yang dalam dekade ini adalah klub dengan ciri permainan paling menghibur dan fluid. Sudah jelaslah bagaimana senangnya kami, para bobotoh. Tapi, itu dulu. Musim ini, di kompetisi non-resmi bertajuk Torabica Super Championship 2016 (TSC 2016), Persib Bandung telah berganti pelatih sebanyak 3 kali. Padahal, setengah musim pun belum ada.


(gambar diambil dari jpnn.com/picture/normal/20160225_123516/123516_805976_persib_grafis_radar_bogor.jpg)



Sebagai seorang bobotoh, melihat kekalahan 4-0 atas Semen Padang beberapa minggu kemarin merupakan suatu hal yang sangat menyakitkan. Namun, kekalahan 1-0 di laga terakhir kontra Perseru Serui sungguh mengecewakan. Kekalahan ini adalah kali ke 4 untuk Persib pada TSC 2016. 

4 kekalahan di bawah 3 pelatih yang berbeda, dan kemarin adalah kekalahan kedua di bawah arahan pelatih Djajang Nurdjaman. Mengejutkan? Mungkin bagi kamu iya. Namun tidak bagi seorang Pandit Gadungan seperti saya, mengapa? Karena tidak ada yang spesial dari cara melatih Djajang Nurdjaman. Kalian sebagai bobotoh buta, pasti akan marah membaca tulisan ini. Tapi, marah kalian pun tidak menyelesaikan apa-apa. Maka, izinkan saya sebagai Pandit Gadungan mengupas kekalahan-kekalahan Persib kemarin:

Bhayangkara Surabaya United 4 – 1 Persib Bandung


Ini adalah kekalahan pertama Persib, setelah di 5 pertandingan sebelumnya Persib mengantongi poin 7 dari hasil 4 kali imbang dan 1 kali kemenangan. Di sisi lain, Bhayangkara Surabaya United (BSU) mengumpulkan 5 poin dari hasil 1 kemenangan dan 2 hasil seri. Di atas kertas, harusnya Persib dapat berbicara banyak pada partai tersebut, namun apa lacur, ide gila yang entah muncul dari mana yang membuat Dejan Antonic, pelatih Persib saat itu, memainkan starting eleven yang berbeda pada pertandingan tersebut. BSU, seperti biasa memainkan pola menyerangnya dengan bertumpu pada lini tengah mereka. Dejan yang meninggalkan formula permainannya di loker, mendapat pukulan keras malam itu. Keberanian, jika tidak mau dibilang ke-nekat-an nya, memainkan pola yang berbeda harus dibayar mahal. Ketidakstabilan lini tengah Persib saat itu berhasil menjadi lubang besar yang dimanfaatkan dengan baik oleh Bhayangkara Surabaya United. Apa yang salah? Jelas strategi.

Gresik United 2 – 1 Persib Bandung


Caretaker Harry Setiawan harus melupakan euphoria kemenangan perdananya menukangi Persib Bandung. Setelah mundurnya Dejan Antonic sebagai buntut kekalahan 4-1 atas BSU, Harry Setiawan dipercaya oleh manajemen untuk sementara menahkodai Persib. Sebagai orang yang menemani perjalanan Dejan Antonic di Persib pada perhelatan ISC 2016 ini, Harry berhasil membuat Persib bermain dengan nyaman pada partai yang menjadi debutnya melatih Persib. Bermain dengan pola yang tidak berbeda dengan apa yang diusung Dejan, Harry pun berhasil meraih kemanangan 2-1 atas Mitra Kukar. Namun, seperti yang Pandit Gadungan tulis di awal paragraph ini, ternyata awal manis tersebut tidak dapat menghindarkan Persib untuk menelan kekalahan keduanya pada ISC 2016. Melawan Gresik United di kandangnya, Persib harus kehilangan poin setelah menyerah 2-1. Tidak efisiennya lini serang Persib dalam memanfaatkan peluang, ternyata harus dibayar mahal dengan 2 gol yang disarangkan Gresik United setelah memanfaatkan lemahnya koordinasi pertahanan Persib malam itu. Apa yang salah? Efektifitas pemanfaatan peluang.

Semen Padang 4 – 0 Persib Bandung


Debut manis menjadi penanda kembalinya Djajang Nurdjaman ke kursi pelatih kepala Persib. Namun, seperti yang saya sebutkan di atas, sebenarnya tidak ada yang special dari cara melatih atau pemilihan strategi seorang Djajang Nurdjaman. Maka, kekalahan tinggal lah menunggu waktu. Dan…yap, kita melihat Persib luluh tak berdaya di kandang Semen Padang yang menerapkan pressing tinggi dan permainan cepat sejak menit awal. Gol pertama, yang menurut banyak orang adalah kesalahan Yanto Basna, adalah tanda gugupnya barisan pertahanan Persib yang selalu dibayangi pressing ketat pemain Semen Padang. TIdak hanya Basna, Vladimir Vujovic yang memberikan operan lemah kepada Basna di bawah pressing ketat lini depan Semen Padang juga sama salahnya. Selain itu, posisi Toni Sucipto sebagai fullback kiri yang terlalu jauh dengan CB pun juga tidak ideal. Maka, dari posisi Basna menerima bola, tidak ada pilihan lain bagi dia untuk menarik bola ke belakang setelah menerima operan dari Vlado. Namun, lagi-lagi lini depan Semen Padang berhasil memberikan pressing yang dalam yang mengakibatkan Basna kehilangan bola. Lalu apa yang terjadi selanjutnya, Marcel Sacramento langsung menyambar bola tersebut tanpa basa-basi…GOOOLLL. Selanjutnya, seperti yang kamu sudah tahu kan? Tidak perlu lah dibahas, hanya membuka luka dan kekecewaan saja.

Apa yang salah? Tidak ada. Setidaknya ini yang saya dapat dari hasil press conference Djajang Nurdjaman pasca pertandingan. “Gol cepat Semen Padang membuyarkan strategi saya” sebut pelatih Djajang kala itu. Well, menurut Pandit Gadungan, ini bukanlah jawaban yang harusnya keluar dari seorang pelatih yang katanya prestasinya hanya bisa disejajari oleh Pep Guardiola. Kalau ketinggalan di menit awal, instruksikan tim untuk bermain tenang sesuai rencana. Kalau di 30 menit awal ternyata tidak berubah, maka ubah strategi. Kan seperti itu seharusnya. Tapi, apa daya, ternyata sebelum pertandingan genap 30 menit, I Made Wirawan harus memungut bola dari gawangnya untuk kedua kali malam itu. Ketinggalan 2-0. Lihat bagaimana Basna bukan lah orang yang pas untuk disimpan sebagai CB. Dia sering bergerak terlalu agresif dan tidak penting. Ah..malas mengingatnya. Intinya, di pertandingan tersebut jelas tidak terlihat bagaimana kejelian Djajang Nurdjaman dalam meracik strategi. Apa yang terjadi selanjutnya? Juan Belencoso yang menjadi striker pada partai itu, dikritik habis. Tidak bisa membuat peluang lah, tidak punya skill lah, dll yang berujung pada statement dari Manajer Persib Bandung untuk tidak lagi memakai Belencoso. Statement macam apa ini?! Padahal, saya yang seorang Pandit Gadugan saja jelas bisa melihat kalau permainan Persib tidak berkembang. Tidak kreatif. Kamu bisa lihat juga kan? Kalau tidak bisa lihat, mungkin topi koboy dan kumis kamu ngalangin.

Perseru Serui 1 – 0 Persib Bandung


Saya tidak lihat pertandingannya. Jadi saya tidak bisa tulis apa-apa. Dari pada ngarang, toh? Sudahlah, kalah dari tim yang baru saya dengar namanya tahun ini sudah cukup bercerita banyak tentang performa Persib hari ini.

Lalu, Harus Bagaimana Selanjutnya.


Ok, kamu pasti baca sambil komat-kamit protes “ah, ngomong doang” atau “maneh bisa, ngga?” atau “bacot!” atau “Coach DN kan sudah berhasil, maneh protes aja bisanya” atau “Wasit Goblog” dan lain-lain.

Baiklah, sebagai seorang bobotoh yang juga tukang komentar dan juga merangkap Pandit Gadungan, inilah saran dari saya:

1.    Evaluasi ulang pola 4-4-2 / 4-2-3-1


Magis formasi 4-4-2 atau 4-2-3-1 untuk Persib itu sebenarnya sudah hilang ketika Makan Konate hengkang dan Manajemen gagal mencari penggantinya. Memang Persib punya Robertino Pugliara, tapi, lihatlah bagaimana support dari pemain sekitarnya. Robertino adalah seorang playmaker tim. Bukan tipikal box-to-box seperti Konate dan juga bukan seorang Fantasista. Apa artinya? Dia tidak bisa menciptakan keajaiban sendiri. Support dari pemain disekitar Pugliara harus dekat. Inilah yang tidak diberikan oleh pola permainan Persib saat ini. Dua gelandang sudah di instruksikan untuk menjadi holding midfielder. Iya, Hariono dan Kim Kurniawan. Otomatis, di lini tengah ke atas, hanya ada winger yang berpotensi “membantu” permainan Pugliara. Namun, dari nama-nama seperti Atep, Tantan, Zulham dan David Laly yang kerap mengisi posisi tersebut, jarang ada yang memberikan support itu kepada Pugliara. Mungkin, hanya Atep dan Zulham yang bisa memberikan permainan “tek-tok” dengan Pugliara di tengah karena Tantan dan Laly lebih banyak bergerak di sisi luar. Untuk Laly, patut diberi catatan tersendiri, terkadang, ia seperti tidak diberikan instruksi apa-apa selain berlari dan menjauh ke kiri. Jauh sekali..lalu out. Menyedihkan. Maka lihat apa yang terjadi ketika winger-winger tadi tidak memberikan support kepada Pugliara? Belencoso pun turun ke bawah untuk menjadi “teman” Pugliara di tengah. Sayangnya, Belencoso tidak dianugrahi kecepatan dan kelincahan yang mumpuni sehingga sangat sering terlihat ketika centering dilakukan ke kotak penalty, tidak ada siapa-siapa di sana. Sedih. Dan dimata saya, Sergio Van Dijk pun punya tipikal yang sama. Hanya saja, sepakbola Indonesia sudah merasuki akal sehatnya, sehingga SVD rela berlari “naik-turun” menghabiskan stamina nya dengan tidak efektif. Maka, selama tidak ada yang bisa memberikan support kepada Robertino, selamanya dia akan bermain tidak efektif dan peluang pun akan sedikit tercipta.

2.    Latih pola 3-5-2


Ya, inilah pola klasik sepakbola Indonesia. Dulu, dari jaman Galatama, lalu ke Liga Dunhill, banyak tim-tim di Indonesia memainkan pola ini. Bahkan, formasi ini adalah langganan tim nasional Indonesia di masa lalu. Kenapa pola ini begitu “laku” di Indonesia? Karena, pola 3-5-2 cocok untuk permainan kolektif tim dengan performa fisik yang pas-pas an. Jika kamu ga punya pemain yang bisa memainkan peran holding midfielder dengan baik, ambil pola ini. Jika tim kamu tidak punya pemain yang bisa memerankan fullback dengan baik, pakai pola ini. Jika komposisi tim kamu terdiri dari pemain dengan skill cukup, namun tidak mumpuni, ambil pola ini. Kamu pasti sudah menjadi saksi bagaimana Italy di Euro 2016 kemarin kan? Italy di Euro 2016 kemarin disebut mayoritas pengamat sebagai “the worst Italian team ever”, namun kejelian pelatih Antonio Conte memainkan pola 3-5-2 berhasil membawa Italy ke babak Quarter Final dan hanya kalah “hoki” saat tos-tos an dengan German.

Berkaca pada kesuksesan Conte meramu tim Italy dan melihat squad yang dimiliki Persib saat ini, Pandit Gadungan berpendapat pola 3-5-2 tepat untuk dimainkan oleh Persib saat ini. Lagipula, turnamen ini TSC ini kan tergolong “tarkam”. Ya, tarkam yang naik kelas lah karena disponsori merek terkenal. Tarkam karena tidak akan pernah di acknowledge oleh FIFA. Jadi, ini adalah saat yang tepat untuk mencoba-coba formasi baru. Maka, izinkan Pandit Gadungan ini mengeluarkan pendapat untuk formasi Persib saat ini.

 

KIPER


I Made Wirawan, sebagai sosok paling berpengalaman di pos ini sudah sewajarnya memegang posisi inti. Namun, tidak ada salahnya kan untuk sesekali memainkan pelapisnya.

DEFENDER


Vladimir Vujovic, bek paling agresif dan reliable yang ada di Persib saat ini. Pengalamannya membawa Persib 2 kali juara di musim lalu, membuat semangatnya sangat tinggi saat membela Persib. Maka tidak bisa kamu membiarkan Vlado duduk di bangku cadangan. Menentukan 2 pendamping Vlado di lini belakang Persib saat ini cukup sulit. Minimnya jam terbang dari Diaz Angga ataupun Hermawan membuat kedua pemain tersebut cukup riskan jika dimainkan bersamaan. Namun, memilih Yanto Basna pun bukan tanpa resiko. Baiklah, maka coba kita pasangkan Vlado dengan Purwaka Yudi dan Yanto Basna di belakang. Hermawan bisa sesekali di rotasi di posisi pemain belakang tersebut. Atau, mungkin Toni Sucipto yang dipasangkan di lini belakang ini.

MIDFIELDER


Dalam formasi 3-5-2, 2 pemain di lini tengah berperan sebagai wingback. Ada pemain yang berpotensi mengisi 2 posisi ini di Persib, yaitu Toni Sucipto dan Jajang Sukmara. Toni Sucipto sudah lama bermain di sisi kiri Persib. Namun, posisi natural Jajang yang di kiri pun membawa keraguan apakah dia bisa memainkan peran wingback kanan? Jika, Jajang bisa bermain di kanan sama baiknya dengan saat ia bermain di kiri, maka posisi wingback sudah terisi. Namun, jika ternyata Jajang tidak bisa bermain di kanan sebagus jika ia bermain di kiri, maka alternatifnya adalah memainkan Jajang di kiri dan Diaz Angga di kanan. Toni? Bisa dimainkan jadi CB sejajar di belakang bersama Vlado dan Purwaka.

Dari 5 pemain di tengah, 2 sudah terisi. Tinggal 3 yang kosong, yap mari tentukan apa yang kurang. Potensi Robertino Pugliara jelas sayang jika tidak dapat dioptimalkan. Maka, 1 tempat jelas akan diberikan kepada Robertino. Ia bisa bermain di belakang 2 striker nantinya. Nah, tinggal menentukan 2 pemain yang akan menjadi support Robertino di lini tengah. Jika menginginkan stabilitas lini tengah, duet Hariono – Kim bisa menjadi pilihan. Namun, jika ingin bermain lebih agresif dan menyerang, duet Taufik – Kim bisa dipilih. Mengapa Kim yang regular, bukan Hariono? Pertama, Kim bisa menahan emosi dan agresifitasnya, artinya Kim bisa bermain lebih tenang dibanding Hariono. Kedua, Kim bisa memainkan peran holding midfielder modern. Tidak lama memegang bola dan sabar memainkan bola di tengah dan belakang. Ketiga, usia. Dengan usia yang relative lebih muda, stamina Kim lebih stabil dan untuk proyek jangka panjang, Kim bisa menjanjikan lebih.
Maka, 5 pemain yang akan bermain di tengah adalah Toni Sucipto, Jajang Sukmara, Hariono, Kim Kurniawan dan Robertino Pugliara.

FORWARD


Dalam pola 2 striker, Pelatih bisa memilih 2 pemain dengan tipe berbeda di depan sesuai dengan kebutuhan. Yang jelas, stamina pasti akan lebih terjaga, berbeda dengan pola 1 striker ataupun pola 3 striker tanggung yang kerap dimainkan Persib hari ini. Dengan pola ini, Sergio Van Dijk dan Juan Belencoso tidak dapat dimainkan bersamaan. Either SVD atau Belencoso yang menjadi pin point. Pasangannya, ada 4 pemain yang bisa bermain bagus di sana. Persib punya Atep, Tantan, Zulham dan Syamsul Arief. Melihat stabilitas permainan, Zulham Zamrun bisa dikepankan. Kenapa tidak Atep? Di beberapa musim ini, nampaknya Atep tidak terlalu bagus jika harus bermain full 90 menit. Atep adalah tipe leg breaker. Larinya cepat. Ia cocok dimainkan saat lini pertahanan lawan sudah kehabisan staminanya. Tantan? Dengan kemampuannya untuk beradaptasi dan bermain dengan gigih, Tantan pasti akan sangat berguna untuk “dihabiskan” di satu babak. Atau, jika sayang untuk menghabiskan potensi Tantan di satu babak, Tantan bisa diberikan posisi wingback.

Melimpahnya pemain berkualitas di lini serang Persib, memungkinkan pelatih untuk mengoptimalkan daya juang dan stamina mereka karena rotasi pemain dapat dimainkan sama bagusnya oleh pemain-pemain yang dimiliki Persib di lini depan ini.

Berbeda dengan pola 4-4-2 atau 4-3-3, dengan pola 3-5-2, lapangan tengah Persib bisa dibuat lebih compact. Jarak antar pemain bisa lebih dekat. Harapannya, Robertino bisa dapat support dari duet Hariono-Kim tanpa takut kehilangan support dari kedua sisi yang diisi wingback. Selain itu lini belakang Persib yang diisi 3 CB sejajar juga bisa lebih berkonsentrasi untuk menahan gempuran-gempuran. Terakhir, tinggal kita berharap pada kehebatan lini serang Persib yang sebenarnya di atas kertas adalah termasuk yang paling mengerikan di Indonesia.
---------------

Yap, begitulah Persib versi Pandit Gadungan. Jangan terlalu diambil serius toh Turnamen TSC ini juga bukan turnamen serius, kan? Namun, diluar itu semua, Pandit Gadungan menaruh hormat yang sangat besar pada pelatih Djajang Nurjaman. Ia pasti juga sudah punya plan B jika ternyata pola racikannya mengalami kendala. Yaa, dengan catatan topi koboi dan kumis kamu jangan sampai menghalangi pandangan.

Udah ah gitu aja. SEKIAN.

Salam PANDIT GADUNGAN!

Monday, 27 June 2016

[Euro’16 Series] The Unexpected Round of 16 – Part 3



DISCLAIMER: Tulisan ini merupakan bagian ke-3 dari ke-sok-tahu-an seorang penulis gadungan. Walaupun hingga saat ini tingkat akurasi prediksi gadungan ini di atas 50%, namun tidak bijak jika menggunakan tulisan ini sebagai bahan khutbah. Dengan membaca ini, berarti kamu sudah setuju untuk membiarkan pikiranmu dirasuki oleh imajinasi seorang Pandit Gadungan! Enjoy!

The Expected Result from The Unexpected Round of 16


Ya, hasil yang memang sesuai dengan yang sudah diperkirakan sebelumnya. Perancis harus struggling membongkar “bis parkir” yang disimpan Irlandia di lapangan tadi malam. Beruntung mereka punya Antoine Griezmann yang bisa menjadi juru selamat. 2 gol Griezmann di menit ke 58 dan 61 mengantarkan sang Tuan Rumah melaju ke babak 8 besar, as expected.

Beralih ke Lille, stadion Stade-Pierre-Mauroy menjadi saksi kedigdayaan German atas Slovakia. Setelah unggul cepat di menit 8, hasil dari tendangan keras Jerome Boateng, German menjalani laga dengan tenang dan sesuai perkiraan. Gol dari Mario Gomez dan Julian Draxler mengunci kemenangan 3-0 atas Slovakia sekaligus menjadi tiket masuk German ke babak 8 besar, as expected.

Dari partai Belgia vs Hungaria. Dengan possession football nya, Belgia berhasil mendikte jalannya pertandingan. Kemenangan yang sudah diprediksikan sebelumnya, bahkan oleh seorang Pandit Gadungan, as expected.

Yak, cukup segitu saja bahasan dari pertandingan semalam. Selamat untuk Perancis, German dan Belgia yang sudah berhasil melaju ke babak 8 besar bersama dengan Polandia, Wales dan Portugal! Karena sudah pasti banyak yang akan menulis review pertandingannya, maka Pandit Gadungan tidak akan ikut membahas hasil pertandingan tadi malam. Silahkan cari di situs situs langgananmu. Mari, selanjutnya silahkan kamu resapi tulisan buah dari imajinasi Pandit Gadungan ini untuk pertandingan di hari ke 3 babak 16 besar Euro 2016 ini.
-----------------



 

Senin, 27 Juni 2016.


Italy vs Spain, 23.00 WIB.


Italia, adalah tim yang dari dulu bermain konsisten dengan gayanya. Lupakan Spanyol dan German yang baru menemukan formula permainannya pada dekade ini. Hingga kemarin, Italia memainkan sepakbola dengan gaya yang sama seperti yang mereka lakukan saat Pandit Gadungan menonton partai final World Cup 1994 di USA, 22 tahun yang lalu. Filosofi sepakbola yang diusung nya jelas, pertahanan teratur dan disiplin. Menang, dalam benak setiap pemain Italia, adalah ketika lawan tidak dapat mencetak gol ke gawang. Jika bisa memenangi pertandingan dengan 1 gol, untuk apa repot mencetak gol berikutnya. Jika kita melihat permainan ciamik dari tim ini, sudah barang pasti kalau itu adalah bonus. Kebosanan yang dialami oleh lawannya ketika membongkar pertahanan Italia, sering membuat lengah barisan pertahanan lawan dan disitulah agen lini serang Italia mengambil aksinya. Setelah kehilangan maestro lini tengah semacam Pirlo dan Totti, duet yang menjadi kunci sukses mereka memenangi World Cup 2006, tahun ini Italia versi Antonio Conte menemukan formula menyerangnya melalui gaya tradisional 3-5-2 yang bisa bertransformasi menjadi skema apapun. Dua wingback yang bermain cepat dan kreatif ditunjang dengan stabil nya pembagi bola di lini tengah mereka, membuat dua pemain depan mereka bebas bergerak untuk sekedar mengacaukan barisan pertahanan musuh. Lolos sebagai juara group E setelah membuat permainan Belgia hanya seperti latihan mengoper bola pada partai pertamanya di fasa group, Italia membukukan 1 kemenangan lagi atas Swedia. Walaupun Italia “membuang” partai terakhirnya melawan Ireland, tidak lantas membuat Spanyol bisa bersantai ria menghadapi mereka di babak 16 besar.

Setelah secara mengejutkan finis diperingkat ke-2 di bawah Croatia dan menempatkannya di pot “berbahaya”, nampaknya ini tidak membuat gentar Spanyol. Memainkan possession football yang sudah menjadi ciri khas mereka di 10 tahun belakangan ini, seharusnya mudah bagi Spanyol untuk memuncaki group D. Namun ternyata permainan “santai” Spanyol di partai terakhir melawan Croatia di fasa group, dimanfaatkan Croatia dengan baik. Hal ini menjadi catatan khusus, karena pada partai melawan Croatia, Spanyol menurukan squad pemenang mereka. Kelengahan 2 fullback yang memang sering naik membantu serangan menjadi celah yang digunakan oleh Croatia. Jika ingin melaju ke babak selanjutnya, PR lini belakang ini harus segera mereka rapi kan. 

Partai yang mempertemukan Italia dan Spanyol ini disebut-sebut sebagai the early final of Euro 2016. Ya, dua tim ini adalah dua tim kelas juara. Sayangnya, mereka harus berhadapan se-dini ini. Berhadapan dengan tim yang sudah pasti akan menunggu mereka di daerah lapangan permainannya sendiri, membuat Spanyol harus berharap pada magis lini tengah mereka yang dikomandoi Andreas Iniesta dan Cesc Fabregas. Kehilangan sentuhan Xavi Hernandez di lini tengah tampaknya tergantikan dengan lebih “hidupnya” fullback yang mereka miliki saat ini. Kecepatan Jordi Alba dan kejelian Juanfran mengirimkan umpan dapat menjadi pembeda. Namun, sector ini pula lah yang bisa dieksplotasi oleh Italia. Solidnya pertahanan Italia sudah pasti akan “memancing” 2 fullback Spanyol naik membantu serangan. Jika Italia dapat memanfaatkan celah ini, serangan balik cepat dan efektif dari Italia sudah pasti akan merepotkan David De Gea. Sama-sama memiliki kiper yang hebat, maka kamu bisa berharap ada suguhan penyelamatan-penyelamatan gemilang malam nanti. Tinggal lihat tim mana yang lengah lebih dulu, itulah yang akan pulang nanti malam. Prediksi sulit, tapi sepertinya Italia dengan pertahanan yang lebih solid lah yang akan memenangkan partai final yang kepagian ini. Skor 2-1 untuk Italia yang akan ditentukan pada babak perpanjangan waktu!

England vs Iceland, 02.00 WIB (Selasa 28 Juni 2016).


Komposisi Inggris tahun ini dijejali dengan pemain Tottenham Hotspurs. Ini bisa menjadi sinyal baik karena pasti permainan mereka akan lebih fluid. Tidak seperti Inggris di tahun-tahun sebelum ini. Namun, apakah ini pertanda bagus mengingat Spurs hanya finish di peringkat ke 3? Well, performa di fasa group sedikit banyak bisa menjawab pertanyaan itu. Kyle Walker dan Danny Rose di fullback mereka, Dele Alli dan Eric Dier di lapangan tengah serta Harry Kane di depan menjadi pelengkap pasukan Spurs di squad besutan Roy Hodgson pada Euro 2016 kali ini. Untuk performa fullback, peran yang diperlihatkan dua Spurs tadi cukup untuk mengangkat permainan tim yang sering buntu di tengah. Ya, buntu di tengah. Nampaknya Wayne Rooney yang disimpan sebagai holding midfielder oleh Hodgson kerepotan menjalani peran sebagai pembagi bola. Kenapa? Jawabannya ada di performa Eric Dier. Dier bermain sangat malas sebagai seorang holding midfielder. Apa karena di Spurs Dier terbiasa bermain dengan Cristian Eriksen yang punya kecepatan dan daya jelajah lebih tinggi dibanding Rooney? 3 partai di fasa group, menunjukan peran Rooney sebagai pembagi bola tidak dapat dilaksanakan dengan baik. Memang, kehadirannya di lini tengah bisa membuat kestabilan, namun impact nya untuk lini serang Inggris masih minim. Selain persoalan holding midfielder, nampaknya Hodgson juga harus memikirikan solusi untuk “penyakit” yang sering menyerang Rahem Sterling. Sterling ini sebenarnya berpotensi, namun visi permainannya yang tidak jelas kerap hanya membuang energy nya untuk lari kesana-kemari. Jika Hodgson bisa mencari solusi untuk dua hal di atas, sudah barang pasti Inggris dapat melaju lebih jauh.

Islandia. Sama seperti tim kuda hitam lainnya, Pandit Gadungan tidak memiliki data yang cukup untuk mengupas permainan tim ini. Finis sebagai runner up group F setelah berhasil mengantongi 1 kemenangan dan 2 hasil imbang. Islandia mempertontonkan sepakbola bertahan dengan berharap pada skema serangan balik, tipikal tim kelas 2. Namun, ada yang perlu dicatat di sini, pertahanan solid dan disiplin yang mereka peragakan berhasil membuat permainan Portugal yang dipimpin oleh Christiano Ronaldo mati kutu. Skema permainan yang menjadi kunci mereka mendapatkan tiket ke babak final Euro 2016. Performa ciamik mereka lah yang membuat kamu tidak bisa menyaksikan Belanda berlaga pada Euro 2016 ini. Hanya kalah 2 kali pada penyisihan Euro 2016 membuat mereka tidak dapat dianggap remeh. Bukan tidak mungkin, jika Inggris gagal memainkan possession football dengan baik, Inggris akan menjadi korban berikutnya!

Partai ini akan menjadi bukti kejelian Roy Hodgson dalam meracik strategi. Celah yang menganga tadi sangat jelas. Jika Rooney atau siapapun yang nanti berperan sebagai seorang pembagi bola tidak dapat dimaksimalkan, Inggris dalam bahaya. Sekedar possession football saja tidak cukup untuk mengalahkan Islandia. Portugal dan Belanda sudah menjadi korbannya. Harry Kane bisa dipasang sebagai ujung tombak untuk mengimbangi fisik yang dimiliki oleh para pemain bertahan Islandia. Sterling bisa dimaksimalkan untuk mengeksploitasi pertahanan Islandia. Mungkin ini akan menjadi partai yang membuat Inggris frustasi, namun bukan berarti mereka tidak dapat memenangi partai ini. Jika Hodgson dapat memanfaatkan pergantian pemain dengan baik, Inggris dapat melaju ke babak 8 besar. Skor 2-1 untuk Inggris malam nanti!
----------------

Dengan ini, peserta 8 besar pun sudah lengkap. Italia dan Inggirs akan bergabung bersama Polandia, Wales, Portugal, Perancis, German, Belgia. Silahkan catat prediksi di atas dan bandingkan hasilnya nanti. Jadilah saksi bahwa nama Pandit Gadungan bukan hanya sekedar isapan jempol!

Udah ah, gitu aja. SEKIAN.

Salam Pandit Gadungan!