Showing posts with label liga indonesia. Show all posts
Showing posts with label liga indonesia. Show all posts

Sunday, 7 August 2016

Persib Menunggu Maung..

DISCLAIMER: tulisan ini adalah opini dari seorang Pandit Gadungan yang minim pengalaman bermain dan tidak punya kapasitas apa-apa dalam melatih. Semua opini yang keluar murni imajinasi dan jeritan hati dari seorang anak bangsa yang terlahir berdarah biru, sebiru Maung Bandungku! Hati-hati terkontaminasi pikiran amatir dari penulis. Jika sudah yakin dan paham, silahkan dilanjut bacanya. Oh iya, bacanya ga usah pakai emosi ya. Enjoy!

Persib Bandung, sejak lama telah dijuluki Maung. Julukan ini bukan tanpa alasan. Maung adalah Harimau. Entitas yang sangat ditakuti dan bersahaja di dalam hutan. Persib, adalah Maung di dunia sepakbola Indonesia. Setidaknya dulu begitu. Dan, 2 tahun belakangan ini juga begitu. Hari ini, bobotoh (sebutan penggemar Persib) bisa jadi adalah fans klub sepakbola paling jumawa di Indonesia. Bagaimana tidak, Persib adalah pemilik piala Liga Indonesia terakhir. Yang dikalahkannya pun bukan klub sembarangan, adalah Persipura klub yang dalam dekade ini adalah klub dengan ciri permainan paling menghibur dan fluid. Sudah jelaslah bagaimana senangnya kami, para bobotoh. Tapi, itu dulu. Musim ini, di kompetisi non-resmi bertajuk Torabica Super Championship 2016 (TSC 2016), Persib Bandung telah berganti pelatih sebanyak 3 kali. Padahal, setengah musim pun belum ada.


(gambar diambil dari jpnn.com/picture/normal/20160225_123516/123516_805976_persib_grafis_radar_bogor.jpg)



Sebagai seorang bobotoh, melihat kekalahan 4-0 atas Semen Padang beberapa minggu kemarin merupakan suatu hal yang sangat menyakitkan. Namun, kekalahan 1-0 di laga terakhir kontra Perseru Serui sungguh mengecewakan. Kekalahan ini adalah kali ke 4 untuk Persib pada TSC 2016. 

4 kekalahan di bawah 3 pelatih yang berbeda, dan kemarin adalah kekalahan kedua di bawah arahan pelatih Djajang Nurdjaman. Mengejutkan? Mungkin bagi kamu iya. Namun tidak bagi seorang Pandit Gadungan seperti saya, mengapa? Karena tidak ada yang spesial dari cara melatih Djajang Nurdjaman. Kalian sebagai bobotoh buta, pasti akan marah membaca tulisan ini. Tapi, marah kalian pun tidak menyelesaikan apa-apa. Maka, izinkan saya sebagai Pandit Gadungan mengupas kekalahan-kekalahan Persib kemarin:

Bhayangkara Surabaya United 4 – 1 Persib Bandung


Ini adalah kekalahan pertama Persib, setelah di 5 pertandingan sebelumnya Persib mengantongi poin 7 dari hasil 4 kali imbang dan 1 kali kemenangan. Di sisi lain, Bhayangkara Surabaya United (BSU) mengumpulkan 5 poin dari hasil 1 kemenangan dan 2 hasil seri. Di atas kertas, harusnya Persib dapat berbicara banyak pada partai tersebut, namun apa lacur, ide gila yang entah muncul dari mana yang membuat Dejan Antonic, pelatih Persib saat itu, memainkan starting eleven yang berbeda pada pertandingan tersebut. BSU, seperti biasa memainkan pola menyerangnya dengan bertumpu pada lini tengah mereka. Dejan yang meninggalkan formula permainannya di loker, mendapat pukulan keras malam itu. Keberanian, jika tidak mau dibilang ke-nekat-an nya, memainkan pola yang berbeda harus dibayar mahal. Ketidakstabilan lini tengah Persib saat itu berhasil menjadi lubang besar yang dimanfaatkan dengan baik oleh Bhayangkara Surabaya United. Apa yang salah? Jelas strategi.

Gresik United 2 – 1 Persib Bandung


Caretaker Harry Setiawan harus melupakan euphoria kemenangan perdananya menukangi Persib Bandung. Setelah mundurnya Dejan Antonic sebagai buntut kekalahan 4-1 atas BSU, Harry Setiawan dipercaya oleh manajemen untuk sementara menahkodai Persib. Sebagai orang yang menemani perjalanan Dejan Antonic di Persib pada perhelatan ISC 2016 ini, Harry berhasil membuat Persib bermain dengan nyaman pada partai yang menjadi debutnya melatih Persib. Bermain dengan pola yang tidak berbeda dengan apa yang diusung Dejan, Harry pun berhasil meraih kemanangan 2-1 atas Mitra Kukar. Namun, seperti yang Pandit Gadungan tulis di awal paragraph ini, ternyata awal manis tersebut tidak dapat menghindarkan Persib untuk menelan kekalahan keduanya pada ISC 2016. Melawan Gresik United di kandangnya, Persib harus kehilangan poin setelah menyerah 2-1. Tidak efisiennya lini serang Persib dalam memanfaatkan peluang, ternyata harus dibayar mahal dengan 2 gol yang disarangkan Gresik United setelah memanfaatkan lemahnya koordinasi pertahanan Persib malam itu. Apa yang salah? Efektifitas pemanfaatan peluang.

Semen Padang 4 – 0 Persib Bandung


Debut manis menjadi penanda kembalinya Djajang Nurdjaman ke kursi pelatih kepala Persib. Namun, seperti yang saya sebutkan di atas, sebenarnya tidak ada yang special dari cara melatih atau pemilihan strategi seorang Djajang Nurdjaman. Maka, kekalahan tinggal lah menunggu waktu. Dan…yap, kita melihat Persib luluh tak berdaya di kandang Semen Padang yang menerapkan pressing tinggi dan permainan cepat sejak menit awal. Gol pertama, yang menurut banyak orang adalah kesalahan Yanto Basna, adalah tanda gugupnya barisan pertahanan Persib yang selalu dibayangi pressing ketat pemain Semen Padang. TIdak hanya Basna, Vladimir Vujovic yang memberikan operan lemah kepada Basna di bawah pressing ketat lini depan Semen Padang juga sama salahnya. Selain itu, posisi Toni Sucipto sebagai fullback kiri yang terlalu jauh dengan CB pun juga tidak ideal. Maka, dari posisi Basna menerima bola, tidak ada pilihan lain bagi dia untuk menarik bola ke belakang setelah menerima operan dari Vlado. Namun, lagi-lagi lini depan Semen Padang berhasil memberikan pressing yang dalam yang mengakibatkan Basna kehilangan bola. Lalu apa yang terjadi selanjutnya, Marcel Sacramento langsung menyambar bola tersebut tanpa basa-basi…GOOOLLL. Selanjutnya, seperti yang kamu sudah tahu kan? Tidak perlu lah dibahas, hanya membuka luka dan kekecewaan saja.

Apa yang salah? Tidak ada. Setidaknya ini yang saya dapat dari hasil press conference Djajang Nurdjaman pasca pertandingan. “Gol cepat Semen Padang membuyarkan strategi saya” sebut pelatih Djajang kala itu. Well, menurut Pandit Gadungan, ini bukanlah jawaban yang harusnya keluar dari seorang pelatih yang katanya prestasinya hanya bisa disejajari oleh Pep Guardiola. Kalau ketinggalan di menit awal, instruksikan tim untuk bermain tenang sesuai rencana. Kalau di 30 menit awal ternyata tidak berubah, maka ubah strategi. Kan seperti itu seharusnya. Tapi, apa daya, ternyata sebelum pertandingan genap 30 menit, I Made Wirawan harus memungut bola dari gawangnya untuk kedua kali malam itu. Ketinggalan 2-0. Lihat bagaimana Basna bukan lah orang yang pas untuk disimpan sebagai CB. Dia sering bergerak terlalu agresif dan tidak penting. Ah..malas mengingatnya. Intinya, di pertandingan tersebut jelas tidak terlihat bagaimana kejelian Djajang Nurdjaman dalam meracik strategi. Apa yang terjadi selanjutnya? Juan Belencoso yang menjadi striker pada partai itu, dikritik habis. Tidak bisa membuat peluang lah, tidak punya skill lah, dll yang berujung pada statement dari Manajer Persib Bandung untuk tidak lagi memakai Belencoso. Statement macam apa ini?! Padahal, saya yang seorang Pandit Gadugan saja jelas bisa melihat kalau permainan Persib tidak berkembang. Tidak kreatif. Kamu bisa lihat juga kan? Kalau tidak bisa lihat, mungkin topi koboy dan kumis kamu ngalangin.

Perseru Serui 1 – 0 Persib Bandung


Saya tidak lihat pertandingannya. Jadi saya tidak bisa tulis apa-apa. Dari pada ngarang, toh? Sudahlah, kalah dari tim yang baru saya dengar namanya tahun ini sudah cukup bercerita banyak tentang performa Persib hari ini.

Lalu, Harus Bagaimana Selanjutnya.


Ok, kamu pasti baca sambil komat-kamit protes “ah, ngomong doang” atau “maneh bisa, ngga?” atau “bacot!” atau “Coach DN kan sudah berhasil, maneh protes aja bisanya” atau “Wasit Goblog” dan lain-lain.

Baiklah, sebagai seorang bobotoh yang juga tukang komentar dan juga merangkap Pandit Gadungan, inilah saran dari saya:

1.    Evaluasi ulang pola 4-4-2 / 4-2-3-1


Magis formasi 4-4-2 atau 4-2-3-1 untuk Persib itu sebenarnya sudah hilang ketika Makan Konate hengkang dan Manajemen gagal mencari penggantinya. Memang Persib punya Robertino Pugliara, tapi, lihatlah bagaimana support dari pemain sekitarnya. Robertino adalah seorang playmaker tim. Bukan tipikal box-to-box seperti Konate dan juga bukan seorang Fantasista. Apa artinya? Dia tidak bisa menciptakan keajaiban sendiri. Support dari pemain disekitar Pugliara harus dekat. Inilah yang tidak diberikan oleh pola permainan Persib saat ini. Dua gelandang sudah di instruksikan untuk menjadi holding midfielder. Iya, Hariono dan Kim Kurniawan. Otomatis, di lini tengah ke atas, hanya ada winger yang berpotensi “membantu” permainan Pugliara. Namun, dari nama-nama seperti Atep, Tantan, Zulham dan David Laly yang kerap mengisi posisi tersebut, jarang ada yang memberikan support itu kepada Pugliara. Mungkin, hanya Atep dan Zulham yang bisa memberikan permainan “tek-tok” dengan Pugliara di tengah karena Tantan dan Laly lebih banyak bergerak di sisi luar. Untuk Laly, patut diberi catatan tersendiri, terkadang, ia seperti tidak diberikan instruksi apa-apa selain berlari dan menjauh ke kiri. Jauh sekali..lalu out. Menyedihkan. Maka lihat apa yang terjadi ketika winger-winger tadi tidak memberikan support kepada Pugliara? Belencoso pun turun ke bawah untuk menjadi “teman” Pugliara di tengah. Sayangnya, Belencoso tidak dianugrahi kecepatan dan kelincahan yang mumpuni sehingga sangat sering terlihat ketika centering dilakukan ke kotak penalty, tidak ada siapa-siapa di sana. Sedih. Dan dimata saya, Sergio Van Dijk pun punya tipikal yang sama. Hanya saja, sepakbola Indonesia sudah merasuki akal sehatnya, sehingga SVD rela berlari “naik-turun” menghabiskan stamina nya dengan tidak efektif. Maka, selama tidak ada yang bisa memberikan support kepada Robertino, selamanya dia akan bermain tidak efektif dan peluang pun akan sedikit tercipta.

2.    Latih pola 3-5-2


Ya, inilah pola klasik sepakbola Indonesia. Dulu, dari jaman Galatama, lalu ke Liga Dunhill, banyak tim-tim di Indonesia memainkan pola ini. Bahkan, formasi ini adalah langganan tim nasional Indonesia di masa lalu. Kenapa pola ini begitu “laku” di Indonesia? Karena, pola 3-5-2 cocok untuk permainan kolektif tim dengan performa fisik yang pas-pas an. Jika kamu ga punya pemain yang bisa memainkan peran holding midfielder dengan baik, ambil pola ini. Jika tim kamu tidak punya pemain yang bisa memerankan fullback dengan baik, pakai pola ini. Jika komposisi tim kamu terdiri dari pemain dengan skill cukup, namun tidak mumpuni, ambil pola ini. Kamu pasti sudah menjadi saksi bagaimana Italy di Euro 2016 kemarin kan? Italy di Euro 2016 kemarin disebut mayoritas pengamat sebagai “the worst Italian team ever”, namun kejelian pelatih Antonio Conte memainkan pola 3-5-2 berhasil membawa Italy ke babak Quarter Final dan hanya kalah “hoki” saat tos-tos an dengan German.

Berkaca pada kesuksesan Conte meramu tim Italy dan melihat squad yang dimiliki Persib saat ini, Pandit Gadungan berpendapat pola 3-5-2 tepat untuk dimainkan oleh Persib saat ini. Lagipula, turnamen ini TSC ini kan tergolong “tarkam”. Ya, tarkam yang naik kelas lah karena disponsori merek terkenal. Tarkam karena tidak akan pernah di acknowledge oleh FIFA. Jadi, ini adalah saat yang tepat untuk mencoba-coba formasi baru. Maka, izinkan Pandit Gadungan ini mengeluarkan pendapat untuk formasi Persib saat ini.

 

KIPER


I Made Wirawan, sebagai sosok paling berpengalaman di pos ini sudah sewajarnya memegang posisi inti. Namun, tidak ada salahnya kan untuk sesekali memainkan pelapisnya.

DEFENDER


Vladimir Vujovic, bek paling agresif dan reliable yang ada di Persib saat ini. Pengalamannya membawa Persib 2 kali juara di musim lalu, membuat semangatnya sangat tinggi saat membela Persib. Maka tidak bisa kamu membiarkan Vlado duduk di bangku cadangan. Menentukan 2 pendamping Vlado di lini belakang Persib saat ini cukup sulit. Minimnya jam terbang dari Diaz Angga ataupun Hermawan membuat kedua pemain tersebut cukup riskan jika dimainkan bersamaan. Namun, memilih Yanto Basna pun bukan tanpa resiko. Baiklah, maka coba kita pasangkan Vlado dengan Purwaka Yudi dan Yanto Basna di belakang. Hermawan bisa sesekali di rotasi di posisi pemain belakang tersebut. Atau, mungkin Toni Sucipto yang dipasangkan di lini belakang ini.

MIDFIELDER


Dalam formasi 3-5-2, 2 pemain di lini tengah berperan sebagai wingback. Ada pemain yang berpotensi mengisi 2 posisi ini di Persib, yaitu Toni Sucipto dan Jajang Sukmara. Toni Sucipto sudah lama bermain di sisi kiri Persib. Namun, posisi natural Jajang yang di kiri pun membawa keraguan apakah dia bisa memainkan peran wingback kanan? Jika, Jajang bisa bermain di kanan sama baiknya dengan saat ia bermain di kiri, maka posisi wingback sudah terisi. Namun, jika ternyata Jajang tidak bisa bermain di kanan sebagus jika ia bermain di kiri, maka alternatifnya adalah memainkan Jajang di kiri dan Diaz Angga di kanan. Toni? Bisa dimainkan jadi CB sejajar di belakang bersama Vlado dan Purwaka.

Dari 5 pemain di tengah, 2 sudah terisi. Tinggal 3 yang kosong, yap mari tentukan apa yang kurang. Potensi Robertino Pugliara jelas sayang jika tidak dapat dioptimalkan. Maka, 1 tempat jelas akan diberikan kepada Robertino. Ia bisa bermain di belakang 2 striker nantinya. Nah, tinggal menentukan 2 pemain yang akan menjadi support Robertino di lini tengah. Jika menginginkan stabilitas lini tengah, duet Hariono – Kim bisa menjadi pilihan. Namun, jika ingin bermain lebih agresif dan menyerang, duet Taufik – Kim bisa dipilih. Mengapa Kim yang regular, bukan Hariono? Pertama, Kim bisa menahan emosi dan agresifitasnya, artinya Kim bisa bermain lebih tenang dibanding Hariono. Kedua, Kim bisa memainkan peran holding midfielder modern. Tidak lama memegang bola dan sabar memainkan bola di tengah dan belakang. Ketiga, usia. Dengan usia yang relative lebih muda, stamina Kim lebih stabil dan untuk proyek jangka panjang, Kim bisa menjanjikan lebih.
Maka, 5 pemain yang akan bermain di tengah adalah Toni Sucipto, Jajang Sukmara, Hariono, Kim Kurniawan dan Robertino Pugliara.

FORWARD


Dalam pola 2 striker, Pelatih bisa memilih 2 pemain dengan tipe berbeda di depan sesuai dengan kebutuhan. Yang jelas, stamina pasti akan lebih terjaga, berbeda dengan pola 1 striker ataupun pola 3 striker tanggung yang kerap dimainkan Persib hari ini. Dengan pola ini, Sergio Van Dijk dan Juan Belencoso tidak dapat dimainkan bersamaan. Either SVD atau Belencoso yang menjadi pin point. Pasangannya, ada 4 pemain yang bisa bermain bagus di sana. Persib punya Atep, Tantan, Zulham dan Syamsul Arief. Melihat stabilitas permainan, Zulham Zamrun bisa dikepankan. Kenapa tidak Atep? Di beberapa musim ini, nampaknya Atep tidak terlalu bagus jika harus bermain full 90 menit. Atep adalah tipe leg breaker. Larinya cepat. Ia cocok dimainkan saat lini pertahanan lawan sudah kehabisan staminanya. Tantan? Dengan kemampuannya untuk beradaptasi dan bermain dengan gigih, Tantan pasti akan sangat berguna untuk “dihabiskan” di satu babak. Atau, jika sayang untuk menghabiskan potensi Tantan di satu babak, Tantan bisa diberikan posisi wingback.

Melimpahnya pemain berkualitas di lini serang Persib, memungkinkan pelatih untuk mengoptimalkan daya juang dan stamina mereka karena rotasi pemain dapat dimainkan sama bagusnya oleh pemain-pemain yang dimiliki Persib di lini depan ini.

Berbeda dengan pola 4-4-2 atau 4-3-3, dengan pola 3-5-2, lapangan tengah Persib bisa dibuat lebih compact. Jarak antar pemain bisa lebih dekat. Harapannya, Robertino bisa dapat support dari duet Hariono-Kim tanpa takut kehilangan support dari kedua sisi yang diisi wingback. Selain itu lini belakang Persib yang diisi 3 CB sejajar juga bisa lebih berkonsentrasi untuk menahan gempuran-gempuran. Terakhir, tinggal kita berharap pada kehebatan lini serang Persib yang sebenarnya di atas kertas adalah termasuk yang paling mengerikan di Indonesia.
---------------

Yap, begitulah Persib versi Pandit Gadungan. Jangan terlalu diambil serius toh Turnamen TSC ini juga bukan turnamen serius, kan? Namun, diluar itu semua, Pandit Gadungan menaruh hormat yang sangat besar pada pelatih Djajang Nurjaman. Ia pasti juga sudah punya plan B jika ternyata pola racikannya mengalami kendala. Yaa, dengan catatan topi koboi dan kumis kamu jangan sampai menghalangi pandangan.

Udah ah gitu aja. SEKIAN.

Salam PANDIT GADUNGAN!

Sunday, 12 June 2016

Akhir Cerita Dejan Antonic..



DISCLAIMER: Tulisan ini merupakan buah keresahan seorang Pandit Gadungan akan tim kesayangannya, Persib Bandung. Bila banyak kesalahan dalam penulisan, harap hubungi pos hansip terdekat karena tulisan ini akan lebih banyak menuangkan opini yang mungkin malah menguras emosi anda. Enjoy!

Dejan Antonic baru saja mengumumkan pengunduran dirinya dari posisi pelatih kepala Persib Bandung, setelah Persib Bandung “dicukur” habis 1-4 oleh Bhayangkara Surabaya United (BSU) di Stadion Gelora Sidoarjo malam tadi (11/06/2016) pada lanjutan kompetisi sepakbola Indonesia, Indonesia Super Competition. Sebuah anti-klimaks dari perjalanan karir kepelatihan Dejan Antonic di jagat sepakbola Indonesia. 

Kesuksesannya membesut Kitchee SC di Liga Hongkong menjadikan pelatih yang memegang lisensi kepelatihan UEFA Pro ini dilirik oleh Arema FC untuk memperbaiki prestasi tim yang ketika itu sedang terseok-seok di papan bawah Indonesian Premier League (IPL) 2011-2012. Diwarisi tim Arema FC yang sebagian pemainnya sudah pindah ke Liga Super Indonesia ternyata tidak menghalangi sentuhan magis Dejan Antonic untuk membawa Arema FC finish di peringkat ketiga IPL musim itu. Prestasi tersebut mendapatkan apresiasi dari salah satu situs sepakbola terkenal, Goal.com, yang menobatkannya menjadi Coach of The Year di IPL 2011-2012. 

Itulah awal dari kisah manisnya di jagat sepakbola Indonesia, yang sayangnya, seperti sudah ditulis di atas, harus berakhir anti-klimaks.

Berbekal kesuksesan yang tertera pada CV nya, Dejan Antonic pun sempat beberapa kali menangani klub “hijau” di kancah sepakbola Indonesia sebelum akhirnya tim dengan sejarah besar di Liga Indonesia, Persib Bandung, menawarinya posisi pelatih kepala yang saat itu sedang kosong karena ditinggalkan Djajang Nurdjaman untuk belajar di Italia. 

Inilah awalnya..

Dan kamu sudah tahu kan akhirnya seperti apa?

Ya, karena #gantengsajatidakcukup, maka modal Pandit Gadungan ini tinggal analisa ngawur. Silahkan jika ingin lanjut membaca tulisan ini, karena mulai dari sini berarti kamu sudah mengizinkan pikiran kamu dirasuki analisa ngawur ala Pandit Gadungan.

Dimanakah Masalahnya?


Kalau melihat CV nya yang menjadi bukti kesuksesan menangani klub-klub “hijau”, seharusnya kejelian Dejan Antonic dalam menerapkan strategi bukanlah sebuah masalah, seharusnya ya, hingga partai BSU VS Persib Bandung, tadi malam. Ya, kekalahan telak tadi malam dari BSU seakan menjadi theater pertunjukan masalah yang ada di tubuh Persib Bandung.


1.    Dejan Antonic tidak bermain dengan polanya tadi malam.

 

Skema yang biasa dimainkannya, iya skema yang kerap dicaci-maki bobotoh karena ada Kim Jeffrey Kurniawan di dalamnya, disimpan rapat dalam papan taktiknya. Skema yang sebetulnya menghadirkan stabilitas lini tengah. Skema yang membuat Persib Bandung, hingga sebelum partai tadi malam, menjadi klub yang belum terkalahkan. Tidak buruk sebenarnya. Sama sekali tidak buruk. 

Namun, entah mengapa tadi malam Dejan Antonic berani memainkan pola 4-1-4-1. Apa karena peringkat BSU di klasemen berada di bawah Persib Bandung sehingga Dejan Antonic berani bertaruh bahwa Persib Bandung dapat menang? Sehingga dengan yakinnya Dejan memainkan 3 wingernya, Atep-Tantan-Rachmad Hidayat, di tengah menemani Robertino Pugliara dan meninggalkan hanya Hariono seorang diri menjadi Holding Midfield di depan lini pertahanan Persib Bandung yang bermain terlalu tinggi tadi malam.

Di awal pertandingan, skema 4 support di belakang Belencoso ini nampak menjanjikan. Pergerakan 3 winger yang beraksi free role nampak bisa menghadirkan ancaman. Puncaknya, ketika Robertino dengan galau hendak menendang ke arah gawang setelah mendapat crossing dari sayap kiri Persib Bandung. 

Namun, setelah “selamat” dari beberapa gempuran Persib Bandung, BSU nampaknya belajar banyak. BSU seperti tahu ketika Persib Bandung menyerang, dua full back mereka, Toni Sucipto dan Yanto Basna, akan ikut naik juga dan hanya akan meninggalkan 3 pemain di lini pertahanan Persib Bandung, yaitu Hariono, Purwaka Yudhi dan Hermawan. Maka, ketika diserang balik, trio Evan Dimas-Hargianto-Khairullah bisa dengan leluasa merangsek naik dan membuyarkan penjagaan duo CB Persib Bandung tadi terhadap Rudi Widodo, yang hingga menit ke 30 bermain sendiri di depan karena Ilham Udin bermain di kiri luar. Maka ketika BSU memutuskan untuk memasukan Thiago menggantikan Ilham Udin, ketakutan akan celah ini pun segera terlihat. Melalui skema serangan balik, Thiago berhasil menceploskan bola ke gawang I Made Wirawan yang memang beberapa kali sebelum gol ini tercipta sempat mendapatkan ancaman dari serangan balik. Selanjutnya, kamu sudah tahu lah..

Perbedaan permainan lini tengah sudah sangat mencolok. Trio BSU tersebut bermain dari belakang garis tengah dan naik bersamaan membangun serangan ke lini pertahanan Persib Bandung, sedangkan 4 AMF dari Persib Bandung hanya bermain dari tengah ke depan. Sesekali memang nampak Tantan dan Pugliara turun membantu, namun itu tidak cukup kuat. Hariono terlihat sekali kepayahan harus melindungi celah yang ditinggalkan Toni Sucipto dan Yanto Basna yang kerap di eksploitasi oleh Rudi Widodo pada partai tadi malam. Ketika Taufik masuk di babak kedua pun, itu tidak berarti banyak pada pertahanan Persib Bandung. Memang, Taufik lebih fluid dalam menyerang dan mengalirkan bola, sesuatu yang tidak diperlihatkan Kim Jeffrey dengan baik pada beberapa partai kemarin, namun itu tidak membantu mengembalikan stabilitas lini tengah yang diisi oleh Hariono. Alih-alih menjaga daerah bersama, Hariono dan Taufik malah sering meninggalkan pos bergantian.


2.    Strategi pembelian pemain yang..Aneh.


Ya, dari partai tadi malam pun kamu dapat melihat bagaimana tidak efektifnya strategi pembelian pemain yang diterapkan oleh Persib Bandung. Sudah menjadi rahasia umum, terkadang pembelian pemain yang dilakukan Persib Bandung bukan semata merupakan kebutuhan pelatih, namun ada juga..ah sudahlah.

Silahkan kamu cek komposisi pemain yang dibawa Persib Bandung pada laga semalam, dari 18 pemain yang dibawa, setengahnya adalah pemain yang naturalnya bermain menyerang. Ya, 9 pemain adalah pemain menyerang yang 6 diantaranya adalah winger! Melihat komposisi tim seperti ini, maka wajar jika seorang Pandit Gadungan pun akan bertanya strategi pembelian macam apa ini? Sudah begitu, mereka-mereka adalah nama besar.  Vlado cidera, CB hanya menyisakan Hermawan. Maka wajar, tidak banyak pilihan skema permainan jika tiba-tiba plan A Persib Bandung tidak berjalan sempurna.


3.    Possession Football nanggung dan tidak efektif.


Mari kita runut. Dejan Antonic memasang 2 holding midfielder di skema nya. Apa artinya? Dejan menginkan stabilitas lini tengah. 2 pemain ini bisa mengisi kekosongan area yang ditinggalkan fullback ketika menyerang. 2 holding midfield ini, Hariono dan Kim Jeffrey, adalah pemain-pemain yang punya stamina kuda. Mereka bisa berlari kesana-kemari. Masalah pertama muncul di sini, tidak ada pemain yang bisa menggantikan peran Firman Utina dalam mengirimkan umpan lambung vertical dari tengah langsung ke depan. Kim Jeffrey berusaha memainkan peran tersebut, dan seringnya gagal! 

Taufik sebenarnya punya potensi, tapi lebih seringnya Taufik membawa bola dan naik ke depan, membuat area di depan CB hanya dijaga Hariono. Mungkin inilah alasan mengapa Taufik jarang dipasang oleh Dejan, karena Dejan tidak dapat menemukan stabilitas lini tengah pada duet Hariono-Taufik. Kalau sudah begini, ada siapa di bangku cadangan Persib? Kamu bisa menjawabnya..

Performa naik-turun Atep dan Tantan yang menyusuri pinggir lapangan pun patut disorot. Tidak sedikit peluang Persib Bandung untuk mencetak gol terbuang begitu saja di kaki 2 orang ini. Masalah kedua muncul di sini. Ketika 2 pemain sayap Persib Bandung tidak bermain efektif, maka Dejan pasti akan melakukan pergantian pemain. David Laly, nama yang kerap dimasukan, celakanya bermain sangat patronikal. Dapat bola, lari ke sisi kiri luar dan melepaskan crossing. Sayangnya, crossing yang dilepaskan sering kali tidak menemui sasaran. Gol David Laly waktu itu pun, semua bisa melihat, itu adalah keberuntungan semata. 

Dari 3 kesempatan pergantian pemain, sudah menjadi rule of thumb bahwa pelatih hanya akan memakai 2 kesempatan, karena 1 kesempatan pasti akan dipakai untuk keadaan darurat (ada yang cidera atau kartu merah) ataupun baru dipakai di akhir-akhir pertandingan. Tidak adanya opsi lain di lini tengah, membuat Dejan pasti akan membuang pilihan pergantian pemain ini ke pemain sayap dan Striker. Namun, karena hasil manifestasi strategi pembelian yang aneh, Dejan hanya punya sedikit pilihan. Dejan tidak bisa melakukan pergantian pemain dengan mengharapkan perubahan pola permainan. Ada nama Samsul Arif yang kalau sedang on form, permainannya layak untuk masuk top notch di sepakbola asia, tapi itu jarang sekali terjadi. Seringnya, Samsul Arif hanya mengulangi pola yang gagal dibawa oleh pemain sayap yang ia gantikan. 


4.    Penyelesaian akhir yang kacau.


Rentetan hasil seri yang didapat Persib Bandung, jelas bukan hanya kesalahan strategi dari Dejan Antonic. Seringnya pemain membuang peluang juga menjadi penyumbang surutnya gol yang dihasilkan Persib Bandung. Hanya menghasilkan 5 gol dari 6 pertandingan jelas bukan hasil yang diharapkan ketika kamu punya banyak pemain bertipe menyerang di tim mu. Ketidakmampuan Persib Bandung “membunuh” lawannya di awal-awal laga menjadi awal dari cerita berbeda dengan hasil yang sama..


5.    Perbedaan Bahasa.


Ada kecurigaan dari Pandit Gadungan dibalik pemilihan Kim Jeffrey di squad Persib Bandung. Dejan sepertinya memang butuh pemain yang bisa berkomunikasi baik dengan dirinya mengenai taktik yang ingin diterapkan pada pertandingan. Dan mungkin hanya Kim lah yang bisa mengerti kemauan Dejan. Memang, Dejan bisa berbahasa Indonesia, namun sepertinya masalah taktik dan strategi, Dejan lebih fasih mengungkapkannya dalam Bahasa Inggris. Mungkin yaa. Ini mungkin..


6.    Mental


Sebagai pelatih asing, Dejan sadar betul bahwa standard yang akan dipakai untuk menilai kinerjanya pun akan lebih tinggi. Terlebih, Dejan adalah pelatih yang memegang lisensi UEFA Pro. Keselahan kecil pun mungkin tidak bisa ditolerir oleh jajaran, jika tidak mau disebut seorang, manajemen. Apalagi, saat ini Persib Bandung masih berada dalam Utopia juara ISL 2014 dan Piala Presiden 2015 yang dipersembahkan oleh Djajang Nurdjaman. Sudah barang tentu, bobotoh Persib saat ini masih menengadah ke atas wajahnya. Wajah yang menunjukan gengsi seorang juara. 

Tekanan demi tekanan diterima Dejan usai hanya memberikan poin 7 dari 5 kali pertandingan. Hasil yang sebenarnya menurut Pandit Gadungan tidak buruk mengingat lawan-lawan yang dihadapi Persib adalah tim-tim kuat dan “kuat”. Selain itu, skema permainan Persib pun sudah mulai dikritik bobotoh. Berbekal tagar #gantengsajatidakcukup, bobotoh menunjukan kejengahannya akan kinerja Kim Jeffrey. Alhasil, tadi malam, Dejan pun menyimpan pemain regularnya itu di bangku cadangan dan mencoba menyerang dengan harapan bisa membuat bobotoh senang. Namun apa lacur, malah pembantaian yang didapat Persib.Seharusnya, Dejan sudah paham kalau "berusaha menyenangkan semua orang adalah awal dari kegagalan". Tapi, ya sekali lagi,,apa lacur.


Begitulah pengamatan ngawur yang dibuat oleh Pandit Gadungan. Poin-poin di atas nampaknya solid untuk menjadi penanda pintu Exit untuk Dejan Antonic. Selain ya, sifat sebagian bobotoh yang seperti mantan pacar yang terus bereuforia dan merasa berhak atas mantannya. Namun, nasi sudah menjadi bubur. Agar tidak menjadi temannya setan, silahkan kamu cari makanan pendamping bubur biar jadi enak. Sekalian kamu simak siapakah yang akan menjadi Pelatih Kepala Persib Bandung selanjutnya.

Pesan dari Pandit Gadungan untuk para Jomblo-jomblo, jika pacarmu itu sudah move on, sudahlah, lihat saja ia dari jauh, tidak perlu kamu mencampuri dandanannya lagi apalagi sampai membanding-bandingkan pacar barunya itu dengan kamu yang sudah ditinggal pergi. 
Untuk bobotoh, dewasa lah. Tidak setiap turnamen harus dimenangkan Persib. Ini adalah turnamen tidak resmi. 
Untuk manajemen, realistislah. Sekali lagi, Turnamen tidak resmi seperti ini seharusnya menjadi ajang yang tepat untuk mematangkan bakat maung-maung muda yang dimiliki Persib! Bukan hanya sekedar ajang adu gengsi dan buang uang. 
Untuk pelatih baru Persib, pergunakanlah squad yang ada. Raciklah sesukamu, jangan terlalu dengarkan kritik yang datang. Kamu ditunjuk pasti karena kamu lebih pantas melatih mereka dibanding aku ataupun jutaan bobotoh di luar sana. Untuk Dejan Antonic, good luck, Coach! Terima kasih sudah membawa Robertino Pugliara ke Persib.

(diambil dari situs bola.kompas.com)


Udah ah, gitu aja. SEKIAN


Salam Pandit Gadungan!